KEBERAGAMAN GEOLOGI
Ranah Minang Silokek Geopark
KEBERAGAMAN GEOLOGI
Ranah Minang Silokek Geopark
Geologi Kawasan Geopark Ranah Minang Silokek, Sumatera Barat, adalah kisah tabrakan benua dan pembentukan Sundaland, utamanya pada Blok Sumatera Barat.Blok ini mewakili segmen paling selatan dari Blok Indocina-Malaya Timur—terrane benua utama yang juga disebut dalam arti yang lebih luas sebagai Cathysian—yang mengalami trusting dan pengangkatan untuk membentuk batuan dasar wilayah tersebut (Metcalfe, 2013; H. K. Zhang et al., 2020).
Segmen benua ini sangat penting dalam penutupan Paleo-Tethys, dengan penggabungannya menandai tahap penting dalam evolusi tektonik Asia Tenggara. Bukti dari peristiwa tektonik besar ini adalah keberadaan granitoid Trias Akhir yang luas (c. 227 211 Ma) yang mengganggu kerak benua di daerah Silokek (HK Zhang et al., 2020) (257 juta tahun yang lalu dalam Barber, 2005). Intrusi ini sering dicirikan sebagai granit tipe-A dan mencerminkan aliran panas yang tinggi dan gaya ekstensi yang mengikuti tabrakan kolosal antara blok Indocina Malaya Timur dan Sibumasu (S. Li et al., 2020). Magmatisme pasca-tabrakan ini merupakan indikator yang jelas dari penebalan kerak dan keruntuhan berikutnya yang terjadi saat lempeng tektonik stabil, dengan granit membentuk bagian dari sabuk magmatik lebar yang mendefinisikan margin benua yang baru digabungkan (Cobbing, 2005).Struktur Silokek saat ini ditentukan oleh kedekatan batas cekungan utama dan jahitan tektonik.Konteks geologi yang lebih luas dibingkai oleh Zona Tektonik Sumatera Median (MSTZ), yang mewakili jahitan primer di mana Blok Sumatera Barat bertemu dengan Blok Sibumasu (Barber and Crow, 2009). Basement granit itu sendiri
Terekspos di dalam Cekungan Ombilin Cenozoikum yang lebih muda, cekungan Pull apart klasik yang perkembangannya dikontrol oleh gerakan strike-slip yang signifikan di sepanjang Sistem Patahan Sumatera (Koning, 1985; Koesmawardani et al., 2020). Daerah Silokek diposisikan secara tektonik di dekat batas Cekungan Ombilin di barat laut dan Cekungan Sumatera Tengah di tenggara, menghasilkan sejarah sedimen yang berbeda. Pengisian Tersier awal Cekungan Ombilin didominasi oleh lingkungan aluvial,fluvial, dan lacustrine (danau), dengan unit seperti Formasi Berani (endapan kipas aluvial), Ombilin Lower (mewakili transisi fluvial ke transisi(paralic)),dan Ombilin Upper (mewakili lingkungan laut) diendapkan (Koesoemadinata dan Matasak, 1981; Zaim et al., 2012). Sebaliknya, Cekungan Sumatera Tengah yang besardan produktif di selatan berevolusi dari endapan fluvial-deltaic awal ke lingkungan laut yang lebih luas dengan serpih perairan dalam dan karbonat laut dangkal yang signifikan (Telisa marine shales) seiring dengan kenaikan permukaan laut regional (USGS, 1999; Argakoesoemah dan Kamal, 2005). Struktur pembatas cekungan tertentu,seperti Thrust fault Takung, semakin memperumit geometri, menyoroti sejarah tektonik multi-tahap yang berumur panjang di wilayah tersebut.
DAFTAR KEBERAGAMAN GEOLOGI
Ranah Minang Silokek Geopark