Kunjungan Warga Negara Belanda ke Geopark Ranah Minang Silokek
Kunjungan anggota SHBSS sebanyak 29 warga negara asing (WNA) asal Belanda ke Kabupaten Sijunjung bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Rombongan yang merupakan keluarga keturunan pekerja romusha pada masa Perang Dunia II itu datang untuk menapaktilasi jejak sejarah pembangunan jalur rel kereta api Muaro Sijunjung–Pekanbaru yang dibangun pada tahun 1943 hingga 1945 pada masa pendudukan Jepang.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah yang menjadi saksi perjuangan dan penderitaan para pekerja romusha puluhan tahun silam. Kegiatan itu sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada para korban kerja paksa yang pernah terlibat dalam pembangunan jalur kereta api tersebut.
Ketua Yayasan Peringatan Jalur Kereta Api Burma Siam dan Kereta Api Muaro-Pekanbaru, Wouter Neohouse, mengungkapkan bahwa kedatangan mereka memiliki ikatan emosional dan sejarah yang sangat mendalam. “Kami adalah keluarga keturunan bekas pekerja romusha Belanda yang dipekerjakan oleh tentara Jepang dalam pembangunan jalur rel kereta api pada 80 tahun yang lalu,” ungkap Wouter.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian anggota rombongan memiliki hubungan darah dengan Indonesia, bahkan ada yang lahir di Indonesia. Sebagai simbol hubungan sejarah dan persaudaraan antara Indonesia dan Belanda, Wouter menyerahkan bunga melati kepada Bupati Sijunjung.
Kunjungan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah kelam masa perang, tetapi juga mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Belanda. Selain itu, kegiatan napak tilas ini menjadi pengingat penting akan nilai kemanusiaan, perdamaian, serta upaya menjaga sejarah agar tetap dikenang oleh generasi mendatang.