Logo Geopark Logo Kabupaten Sijunjung

Daftar Mitra geopark

Daftar Mitra geopark di Ranah Minang Silokek Geopark

Rumah Gadang Datuak Tan Mantari Suku Bodi Chaniago

Rumah Gadang Datuak Tan Mantari Suku Bodi Chaniago

Lihat Detail
Rumah Gadang Monti Tungga Suku Chaniago

Rumah Gadang Monti Tungga Suku Chaniago

Lihat Detail
Rumah Gadang Rajo Nan Panjang Suku Chaniago

Rumah Gadang Rajo Nan Panjang Suku Chaniago

Lihat Detail
Ceta Bacorak Kumanis

Ceta Bacorak Kumanis

CETA BACORAK KUMANISCeta Bacorak Kumanis merupakan kerajinan batik khas yang dikembangkan di Nagari Kumanis, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Kerajinan ini menjadi salah satu produk unggulan daerah yang mengangkat kekayaan budaya dan kearifan lokal melalui motif-motif yang dituangkan pada kain.Istilah Ceta Bacorak berasal dari bahasa lokal. Ceta bermakna kain polos, sedangkan corak berarti motif. Dengan demikian, Ceta Bacorak dapat dimaknai sebagai kain yang diberi motif. Istilah ini digunakan untuk menyebut karya batik yang dihasilkan oleh kelompok Kerajinan Anak Nagari Ceta Bacorak Kumanis. Penggunaan nama lokal tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakan Ceta Bacorak Kumanis dari produk batik daerah lainnya.Perkembangan kerajinan batik di Nagari Kumanis diawali dengan pelatihan batik tulis yang diberikan kepada 20 orang masyarakat dari empat jorong pada tahun 2016. Pelatihan kemudian dilanjutkan selama tiga tahun berturut-turut untuk meningkatkan keterampilan para perajin dan kualitas produk yang dihasilkan. Sejak tahun 2017, kelompok perajin telah menghasilkan kain batik, dan pada tahun 2018 kualitas produk serta pemasarannya mulai menunjukkan perkembangan. Pemerintah Kabupaten Sijunjung turut mendukung pengembangannya melalui promosi dalam berbagai kegiatan dan penggunaan batik sebagai pakaian seragam pada organisasi perangkat daerah. Pada tahun 2019, kelompok perajin menggunakan nama Ceta Bacorak Kumanis sebagai identitas kelompoknya.Keunikan Ceta Bacorak Kumanis terutama terletak pada motif-motifnya yang mengangkat unsur budaya, kehidupan masyarakat, alam, sejarah, dan kearifan lokal. Berbagai inspirasi lokal telah dituangkan menjadi motif, antara lain Lansek Manih, Rumah Gadang, Rumpun Bambu, serta motif-motif yang terinspirasi dari kegiatan masyarakat dan cerita lokal.Salah satu motif yang dikembangkan adalah Lansek Manih, yang terinspirasi dari buah lansek atau langsat yang menjadi salah satu ciri khas Kabupaten Sijunjung, khususnya daerah Kumanis. Selain itu, pengembangan motif Ceta Bacorak juga mengambil inspirasi dari berbagai unsur lokal seperti bambu, tradisi berkaul, aktivitas masyarakat menyadap karet, serta cerita dan peninggalan yang berkaitan dengan sejarah masyarakat setempat. Dengan demikian, motif Ceta Bacorak tidak hanya berfungsi sebagai unsur dekoratif, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan kearifan lokal daerah.Seiring perkembangannya, Ceta Bacorak Kumanis tidak hanya diproduksi sebagai kain batik, tetapi juga terus dikembangkan melalui inovasi motif dan produk turunannya. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat Ceta Bacorak sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Sijunjung.Ceta Bacorak Kumanis juga menjadi bagian dari aktivitas wisata di Desa Wisata Nagari Kumanis. Selain melihat hasil kerajinan, wisatawan dapat mengikuti kegiatan wisata edukasi membatik. Dalam kegiatan ini, pengunjung diperkenalkan dengan batik tulis Ceta Bacorak Kumanis dan Nagari Kumanis, kemudian dapat mempelajari beberapa tahapan pembuatan batik, mulai dari membuat pola atau nyorek hingga menggunakan canting dalam proses membatik.Melalui Ceta Bacorak Kumanis, keterampilan membatik, kearifan lokal, dan kreativitas masyarakat bertemu dalam sebuah produk khas daerah. Motif-motif yang bersumber dari lingkungan, budaya, dan cerita masyarakat menjadikan Ceta Bacorak bukan hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai salah satu media untuk memperkenalkan identitas Nagari Kumanis dan Kabupaten Sijunjung kepada masyarakat luas.

Lihat Detail
Rumah Gadang Lipati suku Melayu Gadang

Rumah Gadang Lipati suku Melayu Gadang

Bangunan ini merupakan bangunan tradisional bentuk panggung bertipe Surambi Aceh bergonjong empat, ditambah satu gonjong pada surambi/beranda. Secara turun-temurun, bangunan tradisional ini dihuni oleh suku Melayu Gadang. Dengan demikian, di rumah tersebut berlangsung kehidupan matrilineal. Secara fungsi, bagian-bagian rumah terdiri atas tiga ruang. Ruang pangkal terletak sebelah kanan tangga naik yang lazim digunakan sebagai tempat duduk ninik mamak atau orang tua dalam suku tersebut. Adapun ruang tengah biasa digunakan sebagai tempat duduk untuk anak-anak dan sumando. Sementara itu, ruang yang terdapat di bagian ujung bangunan merupakan tempat untuk memuliakan tamu. Selain Ruang Lepas sebagaimana dijelaskan di atas, rumah ini juga memiliki 4 biliak (kamar). Anak perempuan pertama menikah akan ditempatkan pada bilik paling ujung di sebelah kiri pintu masuk. Ketika adiknya menikah si kakak pindah ke bilik samping yang merupakan bilik kedua, demikian seterusnya.

Lihat Detail
Internasional

Internasional

Beberapa Kegiatan membangun jejaring di tingkat internasional adalah :1. Mengikuti Kegiatan Konfrensi dan Pameran Global Geopark Network di Maroko2. Penandatanganan MoU dengan Geopark Luar Negeri Yaitu Langkawi UGGp, Ida Marda Geopark dan Qshem Island UGGp3. Mengikuti Kegiatan Workshop secara virtual

Lihat Detail
Gunung Sewu UGGp

Gunung Sewu UGGp

Sijunjung, 5 Juni 2023 – Geopark Ranah Minang Silokek resmi menjalin kerja sama dengan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark (UGGp) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Senin, 5 Juni 2023. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan kawasan geopark berbasis konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.Penandatanganan MoU tersebut merupakan wujud komitmen kedua belah pihak untuk membangun sinergi dalam pengembangan geopark, khususnya melalui pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, promosi pariwisata berkelanjutan, serta pelestarian warisan geologi, hayati, dan budaya.Sebagai salah satu UNESCO Global Geopark di Indonesia, Gunung Sewu UGGp memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kawasan geopark sesuai standar UNESCO. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dan sumber pembelajaran bagi Geopark Ranah Minang Silokek dalam mempersiapkan pengelolaan kawasan yang semakin profesional dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.Melalui kerja sama ini, kedua geopark juga berkomitmen untuk melaksanakan berbagai program kolaboratif, seperti kegiatan edukasi, penelitian, pengembangan geowisata, promosi bersama, pertukaran informasi, hingga peningkatan peran masyarakat lokal dalam mendukung pengembangan geopark yang berkelanjutan.Bagi Geopark Ranah Minang Silokek, penandatanganan MoU ini menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring kerja sama dengan geopark yang telah diakui UNESCO. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas pengelolaan kawasan sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat melalui pengembangan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelestarian lingkungan.Kerja sama antara Geopark Ranah Minang Silokek dan Gunung Sewu UGGp diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh dalam mewujudkan pengelolaan geopark yang berstandar internasional. Dengan semangat kolaborasi dan saling berbagi pengalaman, kedua kawasan geopark bertekad untuk terus menjaga kelestarian warisan bumi sekaligus mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

Lihat Detail
BP Geopark Jogja

BP Geopark Jogja

Yogyakarta, 5 Juni 2023 – Badan Pengelola Geopark Ranah Minang Silokek (BP GRMS) resmi menjalin kerja sama dengan Badan Pengelola Geopark Jogja melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilaksanakan pada Senin, 5 Juni 2023. Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi pengelolaan geopark, pengembangan geowisata, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam mendukung pelestarian warisan geologi, budaya, dan hayati.Penandatanganan MoU dilakukan oleh perwakilan kedua badan pengelola sebagai bentuk komitmen untuk membangun kolaborasi yang berkelanjutan. Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang, di antaranya pertukaran informasi dan pengalaman dalam tata kelola geopark, pengembangan destinasi geowisata, peningkatan edukasi kebumian, promosi bersama, hingga penguatan peran masyarakat dalam pengelolaan kawasan geopark.Ketua Badan Pengelola Geopark Ranah Minang Silokek menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan momentum penting untuk memperluas jejaring antar-geopark di Indonesia. Dengan berbagi pengalaman dan praktik terbaik, diharapkan pengelolaan Geopark Ranah Minang Silokek dapat semakin berkembang serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di sekitar kawasan.Sementara itu, Badan Pengelola Geopark Jogja menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Sebagai kawasan geopark yang telah memiliki pengalaman dalam pengembangan geowisata dan pemberdayaan masyarakat, Geopark Jogja siap berbagi pengetahuan serta memperkuat kolaborasi guna mendorong kemajuan geopark di Indonesia.Melalui kesepakatan ini, kedua pihak berkomitmen untuk melaksanakan berbagai program bersama, seperti kegiatan studi banding, pelatihan, penelitian, pengembangan produk geowisata, promosi bersama, serta peningkatan kapasitas kelembagaan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan inovasi dalam pengelolaan geopark yang berorientasi pada konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.Penandatanganan MoU antara BP Geopark Ranah Minang Silokek dan BP Geopark Jogja menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antar-kawasan geopark merupakan kunci dalam memperkuat jaringan geopark nasional. Dengan semangat saling mendukung dan berbagi pengalaman, kedua geopark optimistis dapat berkontribusi lebih besar dalam menjaga kelestarian warisan bumi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Lihat Detail
ITERA (INSTITUT TEKNOLOGI SUMATRA)

ITERA (INSTITUT TEKNOLOGI SUMATRA)

Sijunjung – Badan Pengelola (BP) Geopark Ranah Minang Silokek resmi menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai langkah strategis dalam memperkuat pengembangan kawasan geopark berbasis riset, pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.Kegiatan penandatanganan MoU tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Sijunjung, H. Iraddatilah, S.Pt, yang memberikan dukungan penuh terhadap sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan Badan Pengelola Geopark dalam mewujudkan pengelolaan geopark yang berkelanjutan dan berstandar internasional.Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani secara langsung oleh General Manager BP Geopark Ranah Minang Silokek, Dr. Zefnihan, A.P., M.Si, bersama perwakilan dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kerja sama ini diharapkan menjadi landasan dalam pelaksanaan berbagai program kolaboratif, mulai dari penelitian geologi, pemetaan geosite, pengembangan geowisata, edukasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga inovasi dalam pengembangan geoproduk.Wakil Bupati Sijunjung, H. Iraddatilah, S.Pt, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan langkah penting untuk memperkuat pengelolaan Geopark Ranah Minang Silokek melalui pendekatan ilmiah dan inovatif."Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan Geopark Ranah Minang Silokek, baik dalam aspek konservasi warisan geologi, peningkatan kualitas penelitian, maupun pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan geoproduk," ujarnya.Sementara itu, General Manager BP Geopark Ranah Minang Silokek, Dr. Zefnihan, A.P., M.Si, menyampaikan bahwa kemitraan dengan Institut Teknologi Sumatera menjadi momentum penting dalam memperluas jejaring akademik untuk mendukung pengembangan geopark yang berbasis ilmu pengetahuan.Melalui kerja sama ini, BP Geopark Ranah Minang Silokek dan ITERA berkomitmen untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung pelestarian warisan geologi, peningkatan kualitas pendidikan dan penelitian, serta penguatan peran masyarakat dalam pengembangan kawasan geopark.Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pengembangan Geopark Ranah Minang Silokek sebagai kawasan yang mengintegrasikan aspek konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan, sekaligus memperkuat upaya menuju pengakuan dan pengelolaan geopark yang semakin berkualitas di tingkat nasional maupun internasional.

Lihat Detail
Rumah Gadang Kotik Sampono

Rumah Gadang Kotik Sampono

Rumah Gadang Kotik Sampono Suku Piliang secara numerik diberi nomor 10. Penomoran itu imaksudkan untuk kemudahan identifikasi bangunan di Kawasan Kampung Adat. Bangunan ini bagonjong empat bertipe atap Surambi Aceh. Secara turun temurun dihuni oleh suku Piliang. Rumah gadang Kotik Sampono terbagi atas tiga ruang, yaitu ruang pangka (pangkal) yang terletak sebelah kanan dari pintu masuk. Ruang pangka biasanya digunakan sebagai tempat duduk ninik mamak suku tersebut. Dalam aktifitas sehari-hari, saat tidak digunakan sebagai tempat melaksankan acara adat, ruang pangkal ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan padi yang dalam penyebutan lokal disebut sebagai balobeh. Sementara ruangan tengah biasa sebagai tempat buat anak-anak dan sumando. Adapun ruang paling ujung (di sebelah kiri pintu masuk) diperuntukan untuk memuliakan tamu. Selain lorong/ruang lepas sebagaimana dijelaskan di atas, rumah ini juga memiliki 4 biliak (kamar). Biliak paling ujung diperuntukkan bagi anak perempuan yang sudah menikah. Ketika ada saudara perempuan lainnya menikah, maka perempuan yang lebih awal menikah dan sebelumnya menempati kamar ujung, akan pindah ke kamar/bilik bagian tengah, demikian seterusnya.

Lihat Detail
Rumah gadang Majo Sutan

Rumah gadang Majo Sutan

Rumah Gadang Majo Sutan Suku Piliang bernomor 9. Nomor tersebut merupakan penanda numerik untuk memudahkan identifikasi bangunan-bangunan yang ada dalam kampung Adat Padang Ranah. Bangunan ini merupakan bangunan tradisional rumah panggung bertipe Gajah Maharam dengan empat gonjong pada bagian atap. Secara turun-temurun, bangunan tradisional ini dihuni oleh suku Piliang. Dengan demikian, di rumah tersebut berlangsung kehidupan matrilineal. Rumah ini tidak memiliki beranda. Secara fungsi, bagian-bagian rumah terdiri atas dua ruang. Ruang pangkal terletak sebelah kiri tangga naik yang lazim digunakan sebagai tempat duduk ninik mamak atau orang tua dalam suku tersebut. Adapun ruang tengah biasa digunakan sebagai tempat duduk untuk anak-anak dan sumando. Sementara itu, ruang yang terdapat di bagian ujung bangunan merupakan tempat untuk memuliakan tamu. Selain ruang lepas sebagaimana dijelaskan di atas, rumah ini juga memiliki 3 biliak (kamar). Ruang ini diperuntukkan bagi anak perempuan. Pintu rumah gadang ditempatkan lebih ke kanan. Adapun tujuan penempatan pintu lebih ke kanan adalah agar biliak (kamar) kemenakan tidak terlihat oleh ninik mamak ketika mereka bertamu ke rumah tersebut, kemudian ninik mamak juga bisa memantau ke dapur dan memastikan apakah dapua masih barasok atau indak dalam pengertian lain hal ini menyiratkan apakah cucu kemenakan masih punya bekal untuk dimasak atau tidak.

Lihat Detail
Rumah Gadang Majo Peto Momat

Rumah Gadang Majo Peto Momat

Rumah Gadang Peto Momat Suku Piliang ini bernomor 8. Nomor tersebut merupakan penanda numerik untuk memudahkan identifikasi bangunan-bangunan yang ada dalam kampung Adat Padang Ranah. Bangunan ini merupakan bangunan tradisional bertipe panggung dengan empat gonjong pada bagian atap. Secara turun-temurun, bangunan tradisional ini dihuni oleh suku Piliang. Dengan demikian, di rumah tersebut berlangsung kehidupan matrilineal. Rumah ini memiliki beranda yang merupakan akses masuk menuju ruang utama. Secara fungsi, bagian-bagian rumah terdiri atas tiga ruang. Ruang pangkal terletak sebelah kanan tangga naik yang lazim digunakan sebagai tempat duduk ninik mamak atau orang tua dalam suku tersebut. Adapun ruang tengah biasa digunakan sebagai tempat duduk untuk anak-anak dan sumando. Sementara itu, ruang yang terdapat di bagian ujung bangunan merupakan tempat untuk memuliakan tamu. Selain ruang lepas sebagaimana dijelaskan di atas, rumah ini juga memiliki 3 biliak (kamar). Ruang ini diperuntukkan bagi anak perempuan. Anak perempuan tertua ketika menikah akan ditempatkan pada bilik paling ujung di sebelah kiri pintu masuk. Ketika adiknya menikah si kakak pindah ke bilik samping yang merupakan bilik kedua, begitu seterusnya. Pintu rumah gadang ditempatkan lebih ke kanan. Adapun tujuan penempatan pintu lebih ke kanan adalah agar biliak (kamar) kemenakan tidak terlihat oleh ninik mamak ketika mereka bertamu ke rumah tersebut, kemudian ninik mamak juga bisa memantau ke dapur dan memastikan apakah dapua masih barasok atau indak dalam pengertian lain hal ini menyiratkan apakah cucu kemenakan masih punya bekal untuk dimasak atau tidak.

Lihat Detail